Tiba waktunya untuk berpisah kembali….mungkin ini sebuah ungkapan yang paling kubenci. Suatu ungkapan yang bisa jadi membuat linangan air mata ini mengalir.
Empat bulan sudah aku berpisah dengan adikku satu-satunya. Dua bersaudara ini terpisahkan pulau, satu sama lain sudah mempunyai hidup sendiri-sendiri. Aku dengan anak istriku dan adikku dengan rutinitasnya di ibukota Jakarta yang katanya kota yang kejam.
Tanggal 9 April kemarin adikku meneleponku, tak biasanya dia menelepon di sore hari pada hari kerja. Ternyata dia mengabari kalau ingin mudik. Pulang ke kampung halaman menemui kedua orang tua kami dan sekaligus nyontreng ikut Pemilu. Alhamdulillah keluarga kecil kami berkumpul kembali, meskipun hanya empat hari. Tak banyak yang berubah dari adikku.
Tubuhnya masih kelihatan kurus dan tak banyak bicara. Mungkin saja pengaruh kehidupan kota besar yang kesannya cuek dan cenderung individualis sedikit banyak merasuk ke pola pikirnya. Ya sudahlah..bagiku itu tak penting, yang penting dia sehat walafiat. Tapi tidak bagi ibuku, sulit baginya menerima keadaan putra bungsunya seperti itu. Memang beliau tidak pernah mengeluh secara langsung pada adikku, tapi kepadaku beliau mengadu. Aku hanya berusaha untuk membuat beliau tenang meskipun mungkin baginya itu belum cukup.
Mencoba bercanda dengan anakku pun dia lakukan, meskipun anakku kadang malu-malu. Bagi anak umur 2 tahun bertemu dengan seseorang yang lama tidak dijumpainya pastinya dia akan merasa asing dan aneh, atau bahkan takut. Tapi dasar anak kecil, terus saja dia mengajak bermain dan mencoba menarik perhatian “omnya”.
Satu kebahagian terpancar dari kedua orang tuaku. Keluarga kecilnya ini bisa berkumpul lagi. Padahal, pada hari sebelumnya rumah orang tuaku yang besar itu hanya ada bapak dan ibuku. Tak satu pun anaknya yang tinggal disitu. Aku jauh dan adikku lebih jauh….
……
Wah sialan makiku…bisnya penuh dan kita duduk terpisah. Yoookk turun aja kita cari bis yang kosong, ajakku pada adikku. Maksud hati agar aku bisa duduk bersebelahan dan bisa mengobrol dengannya. Aku ajak dia naik bis pukul satu siang karena pesawat “Lionnya” berangkat jam setengah tujuh sore, pikirku ini gak bakalan telat. Tapi ada kabar jalanan Samarinda – Balikpapan putus karena longsor. Wah gimana nih, sempat bingung juga. Tapi aku langsung bertanya ke penumpanag yang baru saja tiba dari Balikpapan. Gimana mbak, jalanan yang katanya putus tadi? Ohhh…gak papa mas, lancar aja kok, memang sempat macet sih, tapi longsorannya sudah dibersihkan, jawabnya. Alhamdulillah..lega juga sih.
……….
Akhirnya tiba saat yang menyedihkan itu. Mas aku berangkat aja ya, 15 menit pesawatnya berangkat. Ya udah, ati-ati di jalan ya, sering-sering kirim kabar ke aku dan bapak ibu…pesanku ke dia. Cuma itu yang bisa aku ucapkan sebagai kata penutup sebelum dia pergi.
Posted by Eko Budiwiyanto


arvernester said,
April 13, 2009 @ 4:05 am
wah, sabar om….
suatu saat juga bakal ketemu lagi.
saya juga berpisah udah hampir 5 tahun dengan orang tua, sangat berharap akan selalu bertemu suatu waktu.
eko : thx atas koment…
sabar itu pasti…tiap orang khan boleh punya pengharapan..
Maya said,
April 14, 2009 @ 11:14 am
klo ngomong soal perpisahan memang sedih, tp satu hal yg gk bs kita hindari dr dunia yg fana ini: dmn ada pertemuan pasti ada perpisahan. kejam memang, but ‘that’s life’.. :’(
eko : hihikss..jadi mo nangis nih mbak…
mocca_chi said,
April 15, 2009 @ 4:08 am
halo, salam kenal juga yak…
saya link juga, thankss
eko : asyiiikk nambah teman…thx
Lidia said,
April 16, 2009 @ 12:19 pm
hallo salam kenal….kut sedih yaa….hiks….hiks….tapi bener seperti kata Maya,that’s real life….Dmn ada pertemuan pasti ada perpisahan kita gak akan pernah bisa menghindar.contentnya unik….tapi bagus realistis banget.sukses yah….main2 yah ke Blog saya…makasih
eko : thx atas kunjungannya..tapi terlalu banyak perpisahn dibandingkan pertemuan pastilah menyedihkan…iya khan